Cari Kambing Hitam

November 8, 2008 oleh welly

Pahlawan perang Vietnam itu—bahkan sempat lima tahun dijebloskan ke penjara sebagai tahanan perang di Vietnam—John McCain (72), harus merasakan kekalahan. Ia harus mengakui kehebatan ”anak muda”, Barack Obama (47), yang belum pernah merasakan dan mengalami hebatnya perang.

Pengalaman politiknya pun jauh lebih panjang dan matang dibandingkan dengan Obama. Ia memenangi kursi Kongres pada tahun 1982 dan empat tahun kemudian menduduki kursi Senat. Tahun 2000 ia pernah bertarung melawan George W Bush untuk merebutkan nominasi sebagai kandidat presiden dari Partai Republik.

Setelah gagal mengalahkan Bush, ia kembali ke Senat. Kemudian, ia bertarung melawan Obama setelah mengalahkan para nominator dari Partai Republik untuk memperebutkan kursi presiden.

Akan tetapi, kenyataan berkata lain. McCain harus menyimpan dalam-dalam mimpinya untuk menjadi orang nomor satu di AS, satu-satunya negara adidaya di dunia ini. Ia harus mengakui keunggulan Obama.

”Kita telah sampai pada akhir perjalanan panjang,” katanya dalam pidato pengakuan kekalahan, beberapa hari lalu, seperti disiarkan CNN. ”Rakyat Amerika telah berbicara (memilih) dan mereka berbicara secara jelas.” Rakyat Amerika telah menjatuhkan pilihan dan pilihannya itu Obama.

Sebelum berpidato di hadapan para pendukungnya di Arizona, ia menelepon Obama: mengakui kekalahan dan mengucapkan selamat.

Ia melanjutkan pidatonya, ”Apa pun perbedaan kita, kita semua adalah orang Amerika. Saya desak semua warga Amerika yang mendukung saya untuk bersama saya tidak hanya memberikan selamat kepada dia (Obama), tetapi menawarkan kepada presiden kita mendatang kehendak baik kita dan usaha yang sungguh-sungguh untuk bersama-sama mencari jalan, berkompromi, menjembatani perbedaan kita, dan membantu memulihkan kemakmuran, mempertahankan keamanan kita dalam dunia yang berbahaya ini, dan mewariskan kepada anak cucu kita sebuah negara yang lebih baik dan lebih kuat dibandingkan yang kita warisi.”

McCain melanjutkan pidatonya, ”Kalau sekarang ini kita kalah, itu bukan kegagalan Anda semua, tetapi kegagalan saya!”

McCain mengakhiri pidatonya dengan mengatakan, ”Malam ini sangat berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tidak ada dalam hati saya kecuali kecintaan saya kepada negeri ini dan kepada seluruh warga negaranya, apakah mereka mendukung saya atau Senator Obama. Saya mendoakan orang yang sebelumnya adalah lawan saya semoga berhasil dan menjadi presiden saya.”

Pidato McCain itu terasa ”aneh” di telinga kita, bangsa Indonesia yang sudah terbiasa untuk tidak berani mengakui kekalahan meski sudah benar-benar kalah; yang cenderung menuding orang lain sebagai biang kekalahan daripada menunjuk pada dirinya sendiri sebagai penyebab kekalahan. Di negeri ini kalah dianggap sebagai aib, karena itu harus dibela mati-matian, kalau perlu dengan kekerasan untuk membalikkan kekalahan menjadi kemenangan meski itu rekayasa.

Berani mengakui kekalahan adalah bentuk dari keluhuran budi dan kerendahan hati. Mengapa banyak orang di negeri ini berani menang, tetapi tidak berani kalah? Hal itu terlihat dalam banyak bidang, mulai dari olahraga sampai politik.

Para suporter sepak bola akan mengamuk bila kesebelasan yang mereka dukung kalah. Para pemimpin politik yang kalah dalam kongres ramai-ramai membentuk pengurus partai tandingan. Pembela berteriak menyalakan hakim dan berniat naik banding ketika kliennya dikalahkan dalam suatu perkara. Bahkan, para pendukungnya mengamuk.

Sungguh ini salah salah satu aspek watak kita yang amat memprihatinkan. Kita belum siap menerima suatu kekalahan. Hidup ini isinya hanya kemenangan melulu. Kekalahan itu memang menyakitkan. Kesakitan itu tidak mendorong orang untuk mawas diri, tetapi cenderung menuding orang lain dan mencari kambing hitam.

Mengapa McCain bisa, tetapi kita tak bisa?

nothing is free

November 7, 2008 oleh welly

Dalam sebuah seminar, pada waktu universitas negeri belum mandiri, seorang mahasiswa yang mengaku kuliah di sebuah universitas negeri besar mengatakan bahwa ia tidak tertarik pada disiplin ilmu yang sedang ditekuninya dan berkeinginan sekali ‘pindah bidang’. Ia terkejut saat saya berkomentar bahwa ia sudah menyia-nyiakan uang Negara. Dengan telah membayar uang kuliah, ia merasa telah melunasi kewajibannya, tidak menyadari bahwa subsidi Negara begitu besar ke universitas-universitas negeri, sehingga uang kuliah yang dibayarkannya sebenarnya tidak masuk akal alias terlalu murah.

Terkadang kita memang bisa lupa akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap apa yang sudah kita terima. Tak sedikit orang yang tidak mengerti bahwa hidupnya di dalam suatu situasi, tempat atau negara juga memerlukan biaya yang tidak sedikit. Mungkin kita juga sulit menghitung berapa banyak orang yang tak peduli atau bahkan berusaha untuk lolos dari kewajiban membayar cukai atau pajak, padahal pajak sangat vital dibutuhkan agar pemerintah mempunyai dana untuk membangun infrastruktur, menalangi kesulitan keuangan, membayar utang negara, membiayai pendidikan dan masih banyak lagi.

Sebaliknya, apa yang diterima oleh orang lain, seperti fasilitas, upah, imbalan dan kemudahan, sering juga tidak dimengerti oleh orang-orang yang tidak mendapatkannya. Saya terhenyak ketika cucu saya menanyakan apakah orang berkeinginan menjadi ‘orang penting’ agar bisa mendapatkan kemudahan, seperti diskon, duduk di kelas satu, menghindari kemacetan dengan gaung sirene? Padahal, bila kita renungkan sejenak, di balik apa yang diterima oleh seseorang pastilah ada ‘harga yang harus dibayar’.

Seorang pembantu rumah tangga saya bercerita bahwa pada usia 6 tahun, ia perlu mencari kayu kering dulu, sebelum ibunya bisa menanak nasi untuk sarapan. Saya jadi ingat ungkapan yang sering disebut-sebut abang saya semasa kecil, Di dunia ini tak ada yang gratis, kecuali sinar matahari “. Saya semakin menghayati ungkapan tersebut, ketika akan memasang sumur pompa berkedalaman besar. Ternyata sumur pompa tersebut kemudian dipasangi meter dan setiap kubik air yang tersedot perlu dibayarkan pada pemerintah, karena air tanah pun adalah milik negara dan perlu dikelola pemerintah.

Sadari Risiko dalam Setiap Pilihan

Banyak orang, terutama di negara-negara maju, merasa sangat terpukul dengan terpuruknya pasar saham yang setelah ditunggu berhari-hari tidak juga kunjung pulih, bahkan merosot lagi. Pertanyaan mengenai: ’Kapan pasar pulih lagi?’, ‘Bagaimana pulihnya?, Dan, ‘Tindakan apa yang harus diambil?’ beredar dengan harapan adanya pihak yang menciptakan ‘magic’ dengan mengangkat kejatuhan yang dibuat oleh sekelompok manusia yang tidak ada puasnya. Kita lihat bahwa yang dialami oleh para pengusaha dan investor adalah keharusan menelan konsekuensi dari resiko yang diambil. Apa pun pilihan yang kita ambil, kita perlu sangat sadar bahwa ada harga yang perlu dibayar. Di Indonesia, ungkapan Sri Mulyani agar pada para pengusaha mengurus dan menjaga keuangan perusahaan baik-baik, tentunya menandakan tidak akan ada bantuan ‘gratis’ lagi dari Negara untuk ‘menolong’ pengusaha yang terpuruk.

Dalam setiap peran dan pilihan kita, apakah sebagai wirausaha, pengelola lembaga keuangan, investor, pegawai, pegawai negeri, anggota DPR atau bahkan warganegara, akan senantiasa melekat hak, kewajiban dan konsekuensi serta risiko. Ada pejabat negara dengan gaji yang cukup, dihormati oleh public,namun beban yang ditanggung berat dan memerlukan dedikasi tinggi. Ada yang memilih pekerjaan mudah, namun bayaran dan risiko yang kecil. Investor yang menginginkan untung yang besar, pastinya juga sepenuhnya sadar bahwa risko keterpurukan yang dialami bisa parah. Selebriti pun membayar kepopulerannya dengan keharusan menjaga penampilan setiap saat, kemungkinan digosipkan dan hilangnya privasi.

Menilai dengan ‘Fair’, Membayar dengan ‘Pas’

Saya sungguh terkejut ketika teman saya yang cukup berada, tampak berusaha sekali untuk secara memelas meminta ‘keringanan’ membayar uang pangkal dan uang pembangunan sekolah putra-putrinya. Komentarnya: “Kalau belum dapat diskon, rasanya kurang sreg”. Saya jadi bertanya-tanya, apakah ia tidak menghitung bahwa kontribusi yang diberikannya untuk sekolah akan dinikmati kembali dalam bentuk fasilitas belajar bagi putra-putrinya untuk menguasai disiplin ilmu? Apakah alasan bahwa masih banyak terjadi penyelewengan dan korupsi, memperbolehkan orang untuk tidak berkontribusi atau membayar yang ‘pas’?

Ketidaksukaan kita untuk berhitung atau menilai,serta meningkatkan kesadaran kegiatan ‘membayar’ sering menyebabkan kita jadi tidak bisa menimbang ataupun menyeimbangkan hak dan kewajiban. Karyawan yang prestasinya biasa-biasa saja, kemudian di akhir tahun tetap menuntut kenaikan gaji karena harga di pasar naik, sebetulnya menuntut lebih dari haknya. Sebaliknya, bila individu berprestasi baik sehingga perusahaan untung, kita semestinya tidak perlu sungkan sungkan mengungkapkan agar perusahaan ingat untuk membayar lebih banyak.

Dari sisi individu, kita sebenarnya perlu menanamkan sikap fair pada diri sendiri dan pada pihak eksternal. Ukuran yang paling mudah sebenarnya adalah uang. Membayar iuran, pajak, tilang dengan benar adalah latihan yang paling baik untuk meningkatkan ‘awareness’ akan tanggung jawab dan kewajiban kita terhadap pembangunan. Bila hal ini sudah kita lakukan, kita bisa meningkat lebih jauh untuk menghitung ‘harga’ yang harus kita keluarkan untuk mendapatkan hal-hal yang kita inginkan. Misalnya, untuk bisa berprestasi tinggi, kita perlu membayar dengan latihan dan kerja keras, di saat orang lain memilih bersantai. Agar direspek sebagai orang yang anggun dan bisa mendapatkan servis yang baik, terkadang kita harus membayar dengan kesabaran menunggu, mengantri tanpa melakukan suap atau membeli catutan. Untuk mempertahankan pelanggan, tak jarang kita juga perlu membayar dengan mengorbankan waktu, bahkan perasaan. Demikian pula kita dan perusahaan perlu mematuhi berbagai larangan untuk bisa mendapatkan predikat ‘corporate governance’. Sepanjang kita masih bisa menyeimbangkan diri, dan tidak mengorbankan bahkan menjual prinsip, kita bisa berjalan lebih tegap , sehat mental dan perkasa bila merasa sudah membayar dengan ‘pas.

(Ditayangkan di Kompas, 1 November 2008)

Rasionalitas Ber-KB

September 15, 2008 oleh welly

Indikasi akan terjadi ledakan penduduk di Tanah Air menguat. Bukti empiris menunjukkan, angka fertilitas total atau total fertility rate/TFR lebih tinggi daripada angka ideal untuk mencapai penduduk stabil.

Terindikasi, penduduk terus bertambah sekitar 1,3 persen/tahun. Jika angka itu bertahan, jumlah penduduk akan berlipat dua (doubling population) dalam tempo 53 tahun dari saat ini. Tak mengherankan bila Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif menilai Indonesia berpotensi mengalami baby boom tahap kedua (Kompas, 22/7/2008).

Rasionalitas

Perubahan tingkat kelahiran itu, antara lain, karena kendurnya program KB. Perubahan sistem pemerintahan diikuti otonomi daerah dinilai ikut mengendurkan program KB di Tanah Air.

Untuk menurunkan tingkat kelahiran, pentingkah program KB? Turunnya kelahiran di Eropa Barat menunjukkan, program KB bukan faktor penting, tetapi modernisasi dengan ciri rasionalitas dalam cara berpikir (David Yaukey, Demography: The Study of Human Population, 1985).

Cara berpikir rasional yang termanifestasi dalam perubahan perilaku pengambilan keputusan guna mencapai tujuan (termasuk ber-KB) umumnya berdasarkan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Padahal, di masyarakat tradisional, suatu keputusan tidak berubah dari generasi ke generasi.

Adapun faktor pendorong lahirnya cara berpikir rasional masyarakat Eropa Barat adalah perkembangan sosial ekonomi yang ditandai pergeseran masyarakat dari pedesaan ke perkotaan, dari pertanian ke industri dalam lapangan kerja dan aktivitas ekonomi (Yaukey, 1985).

Salah satu wujud nyata cara berpikir rasional adalah dalam menilai anak (child value). Pada masyarakat modern, nilai anak tidak dikaitkan faktor produksi tetapi penerus keturunan. Maka, kualitas anak perlu dijaga dan itu memerlukan biaya sosial, ekonomi, dan psikologi. Akibatnya, keputusan memiliki jumlah anak disesuaikan kemampuan dalam membesarkan anak, yang umumnya menginginkan sedikit anak. Keputusan memiliki sedikit anak ini menjadi pendorong transisi fertilitas di Eropa Barat. Faktor terpenting lain adalah keputusan penundaan usia kawin dan tidak kawin (Coale, 1973).

Sedangkan pada masyarakat tradisional, anak dinilai sebagai investasi faktor produksi untuk membantu penghasilan keluarga. Akibatnya, keputusan untuk memiliki banyak anak tidak berubah dari generasi ke generasi.

Informasi KB

Celakanya, cara berpikir rasional masyarakat Eropa Barat tidak sama dengan masyarakat di Tanah Air. Kenyataan ini terdeteksi dari perilaku yang belum berubah, seperti banyak penduduk menikah pada usia muda, dan cenderung beranak banyak. Maka, kemandirian ber-KB pada masyarakat Eropa Barat tidak bisa diharapkan kepada masyarakat kita sehingga peran pemerintah (program KB) amat diperlukan.

Namun, peran pemerintah tidak dapat dilakukan sembarangan karena program KB terkait hak asasi manusia (HAM). Keputusan seseorang untuk ber-KB dari keinginan sendiri tidak bisa dipaksakan (Watson, 1982).

Watson mengingatkan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam menjalankan program KB, yaitu informasi, ketersediaan alat/cara, dan layanan KB. Ketiga aspek itu harus berjalan paralel dan seimbang. Berdasarkan ketentuan ini, belum terlihat apakah mengendurnya program KB nasional karena aspek informasi, ketersediaan alat/cara, dan layanan KB atau kombinasi ketiganya.

Lebih komunikatif

Ditengarai, aspek ketersediaan alat/cara dan layanan KB kerap dituding sebagai penyebab mengendurnya program KB. Padahal, aspek informasi yang sering terabaikan memberi andil besar dalam program KB. Bahkan, aspek informasi KB diperkirakan memiliki kekuatan melebihi aspek ketersediaan alat/cara dan layanan KB. Salah satu faktor penting yang mendasari kekuatan informasi adalah pada unsur pengetahuan dan pembelajaran.

Informasi KB bernuansa pengetahuan dan pembelajaran amat diperlukan mengingat tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah serta pengaruh kultur, khususnya pada masyarakat pedesaan. Maka, informasi KB dapat diarahkan membentuk pemikiran rasional, terutama dalam keputusan penundaan usia kawin dan pembatasan kelahiran.

Rasionalitas ber-KB di masyarakat perlu terus diupayakan guna menurunkan fertilitas di Tanah Air. Caranya, mendesain informasi KB lebih komunikatif, edukatif, dan persuasif.

Untuk menghasilkan desain informasi KB yang efektif mungkin perlu dilakukan pemerintah pusat, sementara untuk aspek alat/cara KB dan layanannya dilakukan pemerintah daerah. Cara demikian sekaligus dapat menjembatani gap antara kebijakan KB pada level makro (nasional) ke keputusan ber-KB pada level mikro (rumah tangga). Eloknya, rasionalitas ber-KB sejalan dengan HAM.

posting dr: Kompas 8 Agt 2008

oleh Razali Ritonga Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Menunggu pembagian Zakat malah Mangkat.

September 15, 2008 oleh welly
Berita yang terjadi hari ini sungguh memilukan, di Pasuruan jawa timur , seorang saudagar ingin menolong sesama dengan berzakat. Niat baik ini malah berakhir dengan matinya 23warga di berita TV One tadi sore, dan malamnya di beritakan 21 warga si Metro tv akibat berdesak-desakan. Ternyata antiran warga yang ingin menerima zakat yang katanya jumlahnya Rp.30.000 per orang mencapain ribuan orang ikut mengantri, bukan saja dari warga sekitar, hingga warga dari kampung tetangga pun ambil bagian .  Sesaat kita terpaku dengan banyak nya korban jiwa dan di metrotv memberitakan dengan potret kemiskinan. Bnenar. punurunan angka kemiskinan seperti di laporkan oleh pemerintah saat di DPR baru lalu harus dipertanyakan, dari mana ukurannya.
Saat korban diantarkan ketempat keluarganya, jelas keluarga tersebut histeris. Tapi disana terlihat kelaurga tersebut memiliki rumah yang permanent, berlantai keramik, mungkin sederhananya , uang Rp. 30.000,- itu tidak begitu berarti bagi keluarga yang meninggal. Lalu brita yang saya lihat di metro tv itu menampilkan wawancara dari seorang korban yang selamat. ” Setiap Zakat ada tumbalnya” keluar dari mulut korban yang selamat ini saat di wawancara metrotv. Wah , disaat ramadhan ini , yang harusnya kita berbuat kebaikan justru ada yang mempercayain itu tumbal. begitu juga kata office boy di kantor saya, karna ia memang berkampung di jawa. Ada benarnya juga, bisa jadi yang sebenarnya mampu tapi belaku miskin dan ikut berbondong-bondong kesana. Bukan untuk tidak simpatik, namun ada manusia punya kebiasaan mampu mengaku tidak mampu. Bukti dekatnya, pembagian Bantuan Langsuang Tunai(BLT), banyak yang mengeluhkan mereka yang mampu justru yang mendapat BLT, yang tidak mampu justru tidak menerima.
Ada sedikit cerita waktu di tinggal di Ulak karang Padang. saat aku bermain di teras rumah datang seorang minta sedekah membawa karung berisi beras memakai baju koko lusuh kedepan rumah. Jelas dari wajahnya kalo ia minta bantuan , baik uang atau pun beras ia terima. Ibuku melihat dari dalam rumah dan iba, maka di berikanlah uang Lima ratus rupiah, sementara aku ingat belajaku smp hanya tiga ratus rupiah. Betapa senangnya peminta sedekah itu aku lihat , karna memang aku yang di suruh ibu untuk memberikan uang lima ratus rupiah itu. Dari pintu depan yang terbuka ibu memandang ku memberikan uang limaratus itu. Setelah itu aku bermain lagi di teras rumah. Tidak berapa lama datang seorang peminta sedekah yang perlengkapannya sama dengan peminta sedekah tadi, tiak disangka ibu memberikan lagi uang limarut rupiah lagi dengan peminta sedekah ini. Tapi aku disuruh masuk setelah menerima uang itu tadi. Aku bingung , kenapa di suruh masuk. yang aku ingat , ibu bilang “berhenti main di luar! akan datang lagi peminta sedekah nanti”. Aku sedikit tidak percaya atas ucapan ibu . Karna , jiikdilihat, peminta sedekah itu bermuka letih dan lesu.
Semapat aku membuktikan ucapan ibu itu , ternyata benar saja, ada lagi peminta sedekah dateng, ia mengucaokan salam dengan takzim beberapa kali , lalu pergi. Dalam pikiran ku saat itu , apabenar para peminta sedekah itu saling kenal dan berbagi informasi. Dalam pikiranku, bisa ia bisa tidak. Tapi , setelah mengetahui beberapa pesantren di padang panjang memang membuat kelompok-kelompok untuk meminta batuan , tapi aku dengar , itu bagian dari pembentukan mental. Weleh….pemebentukan mental kok seperti itu….

untuk ultah avin yang pertama

September 12, 2008 oleh welly

Menjelang hari perkawinan yang telah direncanakan dua bulan yang lalu keadaan disekeliling telah banyak merahputih dikibarkan. Hal ini memang sangat menyolok dan berbeda, karna setelah didiskusikan antara kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu maka ditentukanlah tanggal pernikahan tersebut jatuh pada hari minggu tanggal tujuh belas agustus di tahun duaribu tiga.

Hari kemerdekaan dimana pesta dirayakan dibanyak tempat orang tua mu mengikat sumpah menjadi suami istri. Saat detik-detik proklamasi direnungkan dengan hikmat jam 10 pagi bulan agustus tahun 45 lalu, jam dan tanggal itupula kami dinikahkan didepan penghulu yang disaksikan kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu.

Pesta perkawinan itu dirayakan di gedung serba guna mesjid Al-Muhazirin Komplek Pondok Kelapa Indah Jakarta Timur dengan cukup banyak tamu yang datang, walaupun banyak juga diantara undangan yang terjebak macet sepanjang jalan menuju lokasi acara dikarnakan banyaknya perayan pesta rakyat hingga membuat kemacetan dimana-mana, toh tetap ayah dan bundamu merasakan banyaknya tangan yang menyalami dengan ucapan selamat menempuh hidup baru.

Sejujurnya, bagiku sendiri, pesta perkawinan itu merupakan puncak perjalanan masa pacaran antara aku dengan bundamu yang tidak terasa sembilan tahun sudah kita berpacaran.

Oiya ayah dan bundamu adalah teman Sekolah Menengah Pertama di perguruan swasta terkenal dikota Padang, kami satu kelas pada tahun keduanya. Jadi sebelum kita pacaran ayahmu telah mengenal bundamu tiga tahun sebelumnya. Di Sekolah menengah Atas kami tidak satu sekolah lagi walaupun ayah dan bundamu sama-sama masuk sekolah negri. Akan tetapi saat sama menginjak kelas dua Sekolah mengah Atas kami memulai hubungan kembali. Iya, bermula dari kartu ucapan Idul Fitri yang dikirimkan Bundamu.

Komitmen yang pernah dibuat antara Ayah dan Bundamu adalah sama-sama menyelesaikan perkuliahan hingga mendapat pekerjaan. Setelah itu kita kawin, dengan berucap syukur Alhamdullilah yang menjadi komitmen kami itu terpenuhi. Ayahmu bekerja di perusahaan distributor plumas industri setelah tiga bulan diJakarta. Dan Bunda bekerja diperusahaan jasa computer setelah beberapa bulan dijakarta. Memang kita hijrah kejakarta setelah masing-masing menyelesaikan kesarjanaan. Itu kita sepakati disaat akhir masa perkuliahan ayah dan bundamu.

Waktu itu kami mengaku pendatang baru dijakarta. Ibukota Negara yang merupakan etalase bangsa ini. Memang Ayahmu terlahir di kota metropolitan ini tapi semenjak kelas tiga sekolah dasar hingga selesai kuliah Ayahmu lewatkan di kota Padang. Maka, dikarenakan itulah Ayahmu ini selalu mengaku orang minang dan memang ibuku, nenekmu terlahir dari keturunan minang, Bukittinggi kampung nenekmu dan bapakku atau kakekmu berdarah Sumatera Selatan, Baturaja nama dusunnya. Sementara Bundamu memang berdarah minang asli, orang tuanya sama-sama orang minang. Solok nama negrinya. Jadi delapan belas tahun kurang lebih Ayahmu di negri minang, dari kelas 3 Sekolah dasar hingga bergelar Sarjana Ekonomi. Karnanya walau dilahirkan di Jakarta aku tidak menguasai wilayah dijakarta, memang sebagai pendatang baru aku dan ibumu dituntut untuk mengerti dan familiar daerah-daerah di pelosok kota yang luasnya hampir 10 kali luas kota Padang dengan jumlah penduduknya 4 kali lipat ramainya.

Dengan kesepakatan memanggil Ayah dan Bunda setelah engkau dilahirkan. Dalam hal panggilan anak pada orang tua, aku serahkan ini pada Bundamu, dan ternyata panggilan itu sangat berkenan dihati ku jua.

Hal yang sangat menegangkan adalah saat prosesi Bundamu melahirkan mu. Tiba-tiba aku disuruh tanda tangan oleh perawat di ruang persalinan tersebut. Isi surat itu detailnya aku menyetujui hal yang terjelek sekalipun jika Bundamu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya aku tidak bersedia menandatanganinya tapi aku diyakinkan oleh tanteku yang juga bekerja di tempat persalinan itu.

Jauh hari sebelum engkau di lahirkan, saat Bundamu mengandung, memang bundamu rajin memeriksa kehamilannya, yang aku ingat Bundamu tiga kali USG. Jadi saat engkau didalam kandungan aku telah melihatmu dalam bentuk foto hitam putih. Hingga aku mengetahui bahwa engkau dalam perut bundamu tidak masalah dalam hal letak dan posisi. Untuk jenis kelamin, saat itu aku belum terlalu memikirkannya karna bagiku terlahir sehat dan normal merupakan karunia Tuhan terhadap ku.

Senin itu bersama ibunya, bundamu pergi memeriksakan kehamilannya yang menurutnya telah melewati tanggal seharusnya engkau dilahirkan. Bundamu tidak merasakan rasa sakit sebagaimana wanita telah hamil sembilan bulan. Maka disarankan oleh dokter Bundamu harus diransang agar dapat melahirkan. Di Induksi, yaitu diransang dengan cairan mirip di Infuse.

Segala hal yang berhubungan dengan biaya telah aku sediakan. Ini aku tabung semenjak aku mengetahui bahwa Bundamu diberitahu dokter positif hamil.

Siang Bundamu mulai di induksi, beberapa jam kemudian aku lihat Bundamu begitu kesakitan, namun rasa sakit itu hilang timbul. Makin lama frekwensi rasa sakit itu kian meningkat. Bundamu dibidani oleh tiga orang yang salah satunya terlihat lebih rileks dan dapat mengontrol serta menyemangati Bundamu.

Saat engkau diangkat dari rahim Bundamu, aku disamping Bundamu. Saat-saat yang tidak akan pernah aku lupakan. Mendengar rintihan sakit Bundamu, antara sakit dan tangis, suara-suara memberi semangat dari para bidan hingga suara tangisan bayi lelaki . “Segala puji bagimu Tuhan yang menguasai hidup dan mati manusia penguasa jagat alam semesta “ku ucapkan beberapa menit setelah engkau dilahirkan. Setelah dibersihkan oleh suster engkau aku adzani dan aku langsung sholat isya. Engkau dilahirkan pukul tujuh sebelum adzan isya terdengar.

Kelahiranmu disebuah Puskesmas terbaik di Jakarta Timur. Tepatnya di kawasan Jatinegara. Gedung berlantai tiga itu lebih mirip Rumah sakit jika di daerah. Ada rekanku menelephon terkejut aku melahirkanmu di sebuah Puskesmas. Maklum di daerahnya Puskesmas itu tidak terawat dan jarang dikunjungi masyarakat. Setelah temanku yang berasal dari Palembang itu tiba di Puskesmas, ia sampe tercengang-cengang melihat betapa besarnya Puskesmas di Jakarta ini. Aku hanya tersenyum saja melihat pengakuannya yang jujur tentang Puskesmas itu.

Keesok harinya cukup banyak yang berkunjung untuk mengucapkan selamat, sanak family hingga teman-temanku yang sama kuliah denganku yang kebetulan sedang di Jakarta menyempatkan diri melihat.

Hari itu tidak ada matahari padahal jam telah menunjukan pukul 10 pagi. Musim hujan yang jatuh dibulam Maret itu membuat kali Ciliwung Banjir. Saat aku duduk di luar Gedung Puskesmas Ayah melihat ada pasien yang keluar dengan kaki diperban, ternyata ia salahsatu warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung yang lutut kakinya sobek harus di jahit akibat terkena atap seng saat berenang dari rumahnya yang telah terendam air sungai yang telah tinggi.

Ayah membeli Koran, berita Gempa Tsunami di Aceh masih menjadi berita hangat yang mengisi berbagai media tanah air. Diperkirakan 220.000 jiwa terbunuh akibat bencana tersebut. Tanggal 24 Desember 2004 menjadi sepuluh Gempa mematikan dalam seratus tahun terakhir. Patahan yang retak membelah dasar laut dan menghempaskan sebuah Stunami melintasi samudra Hindia. Aceh dan Nias menjadi wilayah terparah di Indonesia.

Koran itu Ayah baca hanya sekenanya saja karna kehadiranmu mengalahkan banyak perhatianku yang tiada habisnya.

Saat engkau lahir Ayahmu bekerja sebagai tenaga penjual pada sebuah developer cukup terkenal di Jakarta, berita gempa Stunami membuat kondisi property tidak stabil. Bagi yang bermukimdi pesisir pantai banyak yang ingin menjual rumahnya karna takut akan kejadian di Aceh.Apalagi ada berhembus berita gempa tersebuat akan ada susulannya. Hal ini membuat panic masyarakat.

Tidak disangka-sangka Ayah mendapat berita bahwa tadi malam, saat setelah engkau di lahirkan telah terjadi gempa yang cukup besar, namun gempa tersebut tidak menimbulkan gelombang Stunami karna pusatnya bukandi dasar lautan. Gempa tersebut menimpa Pulau Nias. Gempa yang sama dengan kelahiranmu itu banyak meratakan Rumah dan korban jiwa.