Menjelang hari perkawinan yang telah direncanakan dua bulan yang lalu keadaan disekeliling telah banyak merahputih dikibarkan. Hal ini memang sangat menyolok dan berbeda, karna setelah didiskusikan antara kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu maka ditentukanlah tanggal pernikahan tersebut jatuh pada hari minggu tanggal tujuh belas agustus di tahun duaribu tiga.
Hari kemerdekaan dimana pesta dirayakan dibanyak tempat orang tua mu mengikat sumpah menjadi suami istri. Saat detik-detik proklamasi direnungkan dengan hikmat jam 10 pagi bulan agustus tahun 45 lalu, jam dan tanggal itupula kami dinikahkan didepan penghulu yang disaksikan kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu.
Pesta perkawinan itu dirayakan di gedung serba guna mesjid Al-Muhazirin Komplek Pondok Kelapa Indah Jakarta Timur dengan cukup banyak tamu yang datang, walaupun banyak juga diantara undangan yang terjebak macet sepanjang jalan menuju lokasi acara dikarnakan banyaknya perayan pesta rakyat hingga membuat kemacetan dimana-mana, toh tetap ayah dan bundamu merasakan banyaknya tangan yang menyalami dengan ucapan selamat menempuh hidup baru.
Sejujurnya, bagiku sendiri, pesta perkawinan itu merupakan puncak perjalanan masa pacaran antara aku dengan bundamu yang tidak terasa sembilan tahun sudah kita berpacaran.
Oiya ayah dan bundamu adalah teman Sekolah Menengah Pertama di perguruan swasta terkenal dikota Padang, kami satu kelas pada tahun keduanya. Jadi sebelum kita pacaran ayahmu telah mengenal bundamu tiga tahun sebelumnya. Di Sekolah menengah Atas kami tidak satu sekolah lagi walaupun ayah dan bundamu sama-sama masuk sekolah negri. Akan tetapi saat sama menginjak kelas dua Sekolah mengah Atas kami memulai hubungan kembali. Iya, bermula dari kartu ucapan Idul Fitri yang dikirimkan Bundamu.
Komitmen yang pernah dibuat antara Ayah dan Bundamu adalah sama-sama menyelesaikan perkuliahan hingga mendapat pekerjaan. Setelah itu kita kawin, dengan berucap syukur Alhamdullilah yang menjadi komitmen kami itu terpenuhi. Ayahmu bekerja di perusahaan distributor plumas industri setelah tiga bulan diJakarta. Dan Bunda bekerja diperusahaan jasa computer setelah beberapa bulan dijakarta. Memang kita hijrah kejakarta setelah masing-masing menyelesaikan kesarjanaan. Itu kita sepakati disaat akhir masa perkuliahan ayah dan bundamu.
Waktu itu kami mengaku pendatang baru dijakarta. Ibukota Negara yang merupakan etalase bangsa ini. Memang Ayahmu terlahir di kota metropolitan ini tapi semenjak kelas tiga sekolah dasar hingga selesai kuliah Ayahmu lewatkan di kota Padang. Maka, dikarenakan itulah Ayahmu ini selalu mengaku orang minang dan memang ibuku, nenekmu terlahir dari keturunan minang, Bukittinggi kampung nenekmu dan bapakku atau kakekmu berdarah Sumatera Selatan, Baturaja nama dusunnya. Sementara Bundamu memang berdarah minang asli, orang tuanya sama-sama orang minang. Solok nama negrinya. Jadi delapan belas tahun kurang lebih Ayahmu di negri minang, dari kelas 3 Sekolah dasar hingga bergelar Sarjana Ekonomi. Karnanya walau dilahirkan di Jakarta aku tidak menguasai wilayah dijakarta, memang sebagai pendatang baru aku dan ibumu dituntut untuk mengerti dan familiar daerah-daerah di pelosok kota yang luasnya hampir 10 kali luas kota Padang dengan jumlah penduduknya 4 kali lipat ramainya.
Dengan kesepakatan memanggil Ayah dan Bunda setelah engkau dilahirkan. Dalam hal panggilan anak pada orang tua, aku serahkan ini pada Bundamu, dan ternyata panggilan itu sangat berkenan dihati ku jua.
Hal yang sangat menegangkan adalah saat prosesi Bundamu melahirkan mu. Tiba-tiba aku disuruh tanda tangan oleh perawat di ruang persalinan tersebut. Isi surat itu detailnya aku menyetujui hal yang terjelek sekalipun jika Bundamu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya aku tidak bersedia menandatanganinya tapi aku diyakinkan oleh tanteku yang juga bekerja di tempat persalinan itu.
Jauh hari sebelum engkau di lahirkan, saat Bundamu mengandung, memang bundamu rajin memeriksa kehamilannya, yang aku ingat Bundamu tiga kali USG. Jadi saat engkau didalam kandungan aku telah melihatmu dalam bentuk foto hitam putih. Hingga aku mengetahui bahwa engkau dalam perut bundamu tidak masalah dalam hal letak dan posisi. Untuk jenis kelamin, saat itu aku belum terlalu memikirkannya karna bagiku terlahir sehat dan normal merupakan karunia Tuhan terhadap ku.
Senin itu bersama ibunya, bundamu pergi memeriksakan kehamilannya yang menurutnya telah melewati tanggal seharusnya engkau dilahirkan. Bundamu tidak merasakan rasa sakit sebagaimana wanita telah hamil sembilan bulan. Maka disarankan oleh dokter Bundamu harus diransang agar dapat melahirkan. Di Induksi, yaitu diransang dengan cairan mirip di Infuse.
Segala hal yang berhubungan dengan biaya telah aku sediakan. Ini aku tabung semenjak aku mengetahui bahwa Bundamu diberitahu dokter positif hamil.
Siang Bundamu mulai di induksi, beberapa jam kemudian aku lihat Bundamu begitu kesakitan, namun rasa sakit itu hilang timbul. Makin lama frekwensi rasa sakit itu kian meningkat. Bundamu dibidani oleh tiga orang yang salah satunya terlihat lebih rileks dan dapat mengontrol serta menyemangati Bundamu.
Saat engkau diangkat dari rahim Bundamu, aku disamping Bundamu. Saat-saat yang tidak akan pernah aku lupakan. Mendengar rintihan sakit Bundamu, antara sakit dan tangis, suara-suara memberi semangat dari para bidan hingga suara tangisan bayi lelaki . “Segala puji bagimu Tuhan yang menguasai hidup dan mati manusia penguasa jagat alam semesta “ku ucapkan beberapa menit setelah engkau dilahirkan. Setelah dibersihkan oleh suster engkau aku adzani dan aku langsung sholat isya. Engkau dilahirkan pukul tujuh sebelum adzan isya terdengar.
Kelahiranmu disebuah Puskesmas terbaik di Jakarta Timur. Tepatnya di kawasan Jatinegara. Gedung berlantai tiga itu lebih mirip Rumah sakit jika di daerah. Ada rekanku menelephon terkejut aku melahirkanmu di sebuah Puskesmas. Maklum di daerahnya Puskesmas itu tidak terawat dan jarang dikunjungi masyarakat. Setelah temanku yang berasal dari Palembang itu tiba di Puskesmas, ia sampe tercengang-cengang melihat betapa besarnya Puskesmas di Jakarta ini. Aku hanya tersenyum saja melihat pengakuannya yang jujur tentang Puskesmas itu.
Keesok harinya cukup banyak yang berkunjung untuk mengucapkan selamat, sanak family hingga teman-temanku yang sama kuliah denganku yang kebetulan sedang di Jakarta menyempatkan diri melihat.
Hari itu tidak ada matahari padahal jam telah menunjukan pukul 10 pagi. Musim hujan yang jatuh dibulam Maret itu membuat kali Ciliwung Banjir. Saat aku duduk di luar Gedung Puskesmas Ayah melihat ada pasien yang keluar dengan kaki diperban, ternyata ia salahsatu warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung yang lutut kakinya sobek harus di jahit akibat terkena atap seng saat berenang dari rumahnya yang telah terendam air sungai yang telah tinggi.
Ayah membeli Koran, berita Gempa Tsunami di Aceh masih menjadi berita hangat yang mengisi berbagai media tanah air. Diperkirakan 220.000 jiwa terbunuh akibat bencana tersebut. Tanggal 24 Desember 2004 menjadi sepuluh Gempa mematikan dalam seratus tahun terakhir. Patahan yang retak membelah dasar laut dan menghempaskan sebuah Stunami melintasi samudra Hindia. Aceh dan Nias menjadi wilayah terparah di Indonesia.
Koran itu Ayah baca hanya sekenanya saja karna kehadiranmu mengalahkan banyak perhatianku yang tiada habisnya.
Saat engkau lahir Ayahmu bekerja sebagai tenaga penjual pada sebuah developer cukup terkenal di Jakarta, berita gempa Stunami membuat kondisi property tidak stabil. Bagi yang bermukimdi pesisir pantai banyak yang ingin menjual rumahnya karna takut akan kejadian di Aceh.Apalagi ada berhembus berita gempa tersebuat akan ada susulannya. Hal ini membuat panic masyarakat.
Tidak disangka-sangka Ayah mendapat berita bahwa tadi malam, saat setelah engkau di lahirkan telah terjadi gempa yang cukup besar, namun gempa tersebut tidak menimbulkan gelombang Stunami karna pusatnya bukandi dasar lautan. Gempa tersebut menimpa Pulau Nias. Gempa yang sama dengan kelahiranmu itu banyak meratakan Rumah dan korban jiwa.