Arsip untuk September, 2008

Rasionalitas Ber-KB

September 15, 2008

Indikasi akan terjadi ledakan penduduk di Tanah Air menguat. Bukti empiris menunjukkan, angka fertilitas total atau total fertility rate/TFR lebih tinggi daripada angka ideal untuk mencapai penduduk stabil.

Terindikasi, penduduk terus bertambah sekitar 1,3 persen/tahun. Jika angka itu bertahan, jumlah penduduk akan berlipat dua (doubling population) dalam tempo 53 tahun dari saat ini. Tak mengherankan bila Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sugiri Syarif menilai Indonesia berpotensi mengalami baby boom tahap kedua (Kompas, 22/7/2008).

Rasionalitas

Perubahan tingkat kelahiran itu, antara lain, karena kendurnya program KB. Perubahan sistem pemerintahan diikuti otonomi daerah dinilai ikut mengendurkan program KB di Tanah Air.

Untuk menurunkan tingkat kelahiran, pentingkah program KB? Turunnya kelahiran di Eropa Barat menunjukkan, program KB bukan faktor penting, tetapi modernisasi dengan ciri rasionalitas dalam cara berpikir (David Yaukey, Demography: The Study of Human Population, 1985).

Cara berpikir rasional yang termanifestasi dalam perubahan perilaku pengambilan keputusan guna mencapai tujuan (termasuk ber-KB) umumnya berdasarkan pertimbangan ekonomi dan efisiensi. Padahal, di masyarakat tradisional, suatu keputusan tidak berubah dari generasi ke generasi.

Adapun faktor pendorong lahirnya cara berpikir rasional masyarakat Eropa Barat adalah perkembangan sosial ekonomi yang ditandai pergeseran masyarakat dari pedesaan ke perkotaan, dari pertanian ke industri dalam lapangan kerja dan aktivitas ekonomi (Yaukey, 1985).

Salah satu wujud nyata cara berpikir rasional adalah dalam menilai anak (child value). Pada masyarakat modern, nilai anak tidak dikaitkan faktor produksi tetapi penerus keturunan. Maka, kualitas anak perlu dijaga dan itu memerlukan biaya sosial, ekonomi, dan psikologi. Akibatnya, keputusan memiliki jumlah anak disesuaikan kemampuan dalam membesarkan anak, yang umumnya menginginkan sedikit anak. Keputusan memiliki sedikit anak ini menjadi pendorong transisi fertilitas di Eropa Barat. Faktor terpenting lain adalah keputusan penundaan usia kawin dan tidak kawin (Coale, 1973).

Sedangkan pada masyarakat tradisional, anak dinilai sebagai investasi faktor produksi untuk membantu penghasilan keluarga. Akibatnya, keputusan untuk memiliki banyak anak tidak berubah dari generasi ke generasi.

Informasi KB

Celakanya, cara berpikir rasional masyarakat Eropa Barat tidak sama dengan masyarakat di Tanah Air. Kenyataan ini terdeteksi dari perilaku yang belum berubah, seperti banyak penduduk menikah pada usia muda, dan cenderung beranak banyak. Maka, kemandirian ber-KB pada masyarakat Eropa Barat tidak bisa diharapkan kepada masyarakat kita sehingga peran pemerintah (program KB) amat diperlukan.

Namun, peran pemerintah tidak dapat dilakukan sembarangan karena program KB terkait hak asasi manusia (HAM). Keputusan seseorang untuk ber-KB dari keinginan sendiri tidak bisa dipaksakan (Watson, 1982).

Watson mengingatkan, ada tiga aspek yang harus diperhatikan dalam menjalankan program KB, yaitu informasi, ketersediaan alat/cara, dan layanan KB. Ketiga aspek itu harus berjalan paralel dan seimbang. Berdasarkan ketentuan ini, belum terlihat apakah mengendurnya program KB nasional karena aspek informasi, ketersediaan alat/cara, dan layanan KB atau kombinasi ketiganya.

Lebih komunikatif

Ditengarai, aspek ketersediaan alat/cara dan layanan KB kerap dituding sebagai penyebab mengendurnya program KB. Padahal, aspek informasi yang sering terabaikan memberi andil besar dalam program KB. Bahkan, aspek informasi KB diperkirakan memiliki kekuatan melebihi aspek ketersediaan alat/cara dan layanan KB. Salah satu faktor penting yang mendasari kekuatan informasi adalah pada unsur pengetahuan dan pembelajaran.

Informasi KB bernuansa pengetahuan dan pembelajaran amat diperlukan mengingat tingkat pendidikan masyarakat yang masih rendah serta pengaruh kultur, khususnya pada masyarakat pedesaan. Maka, informasi KB dapat diarahkan membentuk pemikiran rasional, terutama dalam keputusan penundaan usia kawin dan pembatasan kelahiran.

Rasionalitas ber-KB di masyarakat perlu terus diupayakan guna menurunkan fertilitas di Tanah Air. Caranya, mendesain informasi KB lebih komunikatif, edukatif, dan persuasif.

Untuk menghasilkan desain informasi KB yang efektif mungkin perlu dilakukan pemerintah pusat, sementara untuk aspek alat/cara KB dan layanannya dilakukan pemerintah daerah. Cara demikian sekaligus dapat menjembatani gap antara kebijakan KB pada level makro (nasional) ke keputusan ber-KB pada level mikro (rumah tangga). Eloknya, rasionalitas ber-KB sejalan dengan HAM.

posting dr: Kompas 8 Agt 2008

oleh Razali Ritonga Kepala BPS Provinsi Sulawesi Tengah

Menunggu pembagian Zakat malah Mangkat.

September 15, 2008
Berita yang terjadi hari ini sungguh memilukan, di Pasuruan jawa timur , seorang saudagar ingin menolong sesama dengan berzakat. Niat baik ini malah berakhir dengan matinya 23warga di berita TV One tadi sore, dan malamnya di beritakan 21 warga si Metro tv akibat berdesak-desakan. Ternyata antiran warga yang ingin menerima zakat yang katanya jumlahnya Rp.30.000 per orang mencapain ribuan orang ikut mengantri, bukan saja dari warga sekitar, hingga warga dari kampung tetangga pun ambil bagian .  Sesaat kita terpaku dengan banyak nya korban jiwa dan di metrotv memberitakan dengan potret kemiskinan. Bnenar. punurunan angka kemiskinan seperti di laporkan oleh pemerintah saat di DPR baru lalu harus dipertanyakan, dari mana ukurannya.
Saat korban diantarkan ketempat keluarganya, jelas keluarga tersebut histeris. Tapi disana terlihat kelaurga tersebut memiliki rumah yang permanent, berlantai keramik, mungkin sederhananya , uang Rp. 30.000,- itu tidak begitu berarti bagi keluarga yang meninggal. Lalu brita yang saya lihat di metro tv itu menampilkan wawancara dari seorang korban yang selamat. ” Setiap Zakat ada tumbalnya” keluar dari mulut korban yang selamat ini saat di wawancara metrotv. Wah , disaat ramadhan ini , yang harusnya kita berbuat kebaikan justru ada yang mempercayain itu tumbal. begitu juga kata office boy di kantor saya, karna ia memang berkampung di jawa. Ada benarnya juga, bisa jadi yang sebenarnya mampu tapi belaku miskin dan ikut berbondong-bondong kesana. Bukan untuk tidak simpatik, namun ada manusia punya kebiasaan mampu mengaku tidak mampu. Bukti dekatnya, pembagian Bantuan Langsuang Tunai(BLT), banyak yang mengeluhkan mereka yang mampu justru yang mendapat BLT, yang tidak mampu justru tidak menerima.
Ada sedikit cerita waktu di tinggal di Ulak karang Padang. saat aku bermain di teras rumah datang seorang minta sedekah membawa karung berisi beras memakai baju koko lusuh kedepan rumah. Jelas dari wajahnya kalo ia minta bantuan , baik uang atau pun beras ia terima. Ibuku melihat dari dalam rumah dan iba, maka di berikanlah uang Lima ratus rupiah, sementara aku ingat belajaku smp hanya tiga ratus rupiah. Betapa senangnya peminta sedekah itu aku lihat , karna memang aku yang di suruh ibu untuk memberikan uang lima ratus rupiah itu. Dari pintu depan yang terbuka ibu memandang ku memberikan uang limaratus itu. Setelah itu aku bermain lagi di teras rumah. Tidak berapa lama datang seorang peminta sedekah yang perlengkapannya sama dengan peminta sedekah tadi, tiak disangka ibu memberikan lagi uang limarut rupiah lagi dengan peminta sedekah ini. Tapi aku disuruh masuk setelah menerima uang itu tadi. Aku bingung , kenapa di suruh masuk. yang aku ingat , ibu bilang “berhenti main di luar! akan datang lagi peminta sedekah nanti”. Aku sedikit tidak percaya atas ucapan ibu . Karna , jiikdilihat, peminta sedekah itu bermuka letih dan lesu.
Semapat aku membuktikan ucapan ibu itu , ternyata benar saja, ada lagi peminta sedekah dateng, ia mengucaokan salam dengan takzim beberapa kali , lalu pergi. Dalam pikiran ku saat itu , apabenar para peminta sedekah itu saling kenal dan berbagi informasi. Dalam pikiranku, bisa ia bisa tidak. Tapi , setelah mengetahui beberapa pesantren di padang panjang memang membuat kelompok-kelompok untuk meminta batuan , tapi aku dengar , itu bagian dari pembentukan mental. Weleh….pemebentukan mental kok seperti itu….

untuk ultah avin yang pertama

September 12, 2008

Menjelang hari perkawinan yang telah direncanakan dua bulan yang lalu keadaan disekeliling telah banyak merahputih dikibarkan. Hal ini memang sangat menyolok dan berbeda, karna setelah didiskusikan antara kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu maka ditentukanlah tanggal pernikahan tersebut jatuh pada hari minggu tanggal tujuh belas agustus di tahun duaribu tiga.

Hari kemerdekaan dimana pesta dirayakan dibanyak tempat orang tua mu mengikat sumpah menjadi suami istri. Saat detik-detik proklamasi direnungkan dengan hikmat jam 10 pagi bulan agustus tahun 45 lalu, jam dan tanggal itupula kami dinikahkan didepan penghulu yang disaksikan kedua keluarga besar Ayah dan Bundamu.

Pesta perkawinan itu dirayakan di gedung serba guna mesjid Al-Muhazirin Komplek Pondok Kelapa Indah Jakarta Timur dengan cukup banyak tamu yang datang, walaupun banyak juga diantara undangan yang terjebak macet sepanjang jalan menuju lokasi acara dikarnakan banyaknya perayan pesta rakyat hingga membuat kemacetan dimana-mana, toh tetap ayah dan bundamu merasakan banyaknya tangan yang menyalami dengan ucapan selamat menempuh hidup baru.

Sejujurnya, bagiku sendiri, pesta perkawinan itu merupakan puncak perjalanan masa pacaran antara aku dengan bundamu yang tidak terasa sembilan tahun sudah kita berpacaran.

Oiya ayah dan bundamu adalah teman Sekolah Menengah Pertama di perguruan swasta terkenal dikota Padang, kami satu kelas pada tahun keduanya. Jadi sebelum kita pacaran ayahmu telah mengenal bundamu tiga tahun sebelumnya. Di Sekolah menengah Atas kami tidak satu sekolah lagi walaupun ayah dan bundamu sama-sama masuk sekolah negri. Akan tetapi saat sama menginjak kelas dua Sekolah mengah Atas kami memulai hubungan kembali. Iya, bermula dari kartu ucapan Idul Fitri yang dikirimkan Bundamu.

Komitmen yang pernah dibuat antara Ayah dan Bundamu adalah sama-sama menyelesaikan perkuliahan hingga mendapat pekerjaan. Setelah itu kita kawin, dengan berucap syukur Alhamdullilah yang menjadi komitmen kami itu terpenuhi. Ayahmu bekerja di perusahaan distributor plumas industri setelah tiga bulan diJakarta. Dan Bunda bekerja diperusahaan jasa computer setelah beberapa bulan dijakarta. Memang kita hijrah kejakarta setelah masing-masing menyelesaikan kesarjanaan. Itu kita sepakati disaat akhir masa perkuliahan ayah dan bundamu.

Waktu itu kami mengaku pendatang baru dijakarta. Ibukota Negara yang merupakan etalase bangsa ini. Memang Ayahmu terlahir di kota metropolitan ini tapi semenjak kelas tiga sekolah dasar hingga selesai kuliah Ayahmu lewatkan di kota Padang. Maka, dikarenakan itulah Ayahmu ini selalu mengaku orang minang dan memang ibuku, nenekmu terlahir dari keturunan minang, Bukittinggi kampung nenekmu dan bapakku atau kakekmu berdarah Sumatera Selatan, Baturaja nama dusunnya. Sementara Bundamu memang berdarah minang asli, orang tuanya sama-sama orang minang. Solok nama negrinya. Jadi delapan belas tahun kurang lebih Ayahmu di negri minang, dari kelas 3 Sekolah dasar hingga bergelar Sarjana Ekonomi. Karnanya walau dilahirkan di Jakarta aku tidak menguasai wilayah dijakarta, memang sebagai pendatang baru aku dan ibumu dituntut untuk mengerti dan familiar daerah-daerah di pelosok kota yang luasnya hampir 10 kali luas kota Padang dengan jumlah penduduknya 4 kali lipat ramainya.

Dengan kesepakatan memanggil Ayah dan Bunda setelah engkau dilahirkan. Dalam hal panggilan anak pada orang tua, aku serahkan ini pada Bundamu, dan ternyata panggilan itu sangat berkenan dihati ku jua.

Hal yang sangat menegangkan adalah saat prosesi Bundamu melahirkan mu. Tiba-tiba aku disuruh tanda tangan oleh perawat di ruang persalinan tersebut. Isi surat itu detailnya aku menyetujui hal yang terjelek sekalipun jika Bundamu mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Awalnya aku tidak bersedia menandatanganinya tapi aku diyakinkan oleh tanteku yang juga bekerja di tempat persalinan itu.

Jauh hari sebelum engkau di lahirkan, saat Bundamu mengandung, memang bundamu rajin memeriksa kehamilannya, yang aku ingat Bundamu tiga kali USG. Jadi saat engkau didalam kandungan aku telah melihatmu dalam bentuk foto hitam putih. Hingga aku mengetahui bahwa engkau dalam perut bundamu tidak masalah dalam hal letak dan posisi. Untuk jenis kelamin, saat itu aku belum terlalu memikirkannya karna bagiku terlahir sehat dan normal merupakan karunia Tuhan terhadap ku.

Senin itu bersama ibunya, bundamu pergi memeriksakan kehamilannya yang menurutnya telah melewati tanggal seharusnya engkau dilahirkan. Bundamu tidak merasakan rasa sakit sebagaimana wanita telah hamil sembilan bulan. Maka disarankan oleh dokter Bundamu harus diransang agar dapat melahirkan. Di Induksi, yaitu diransang dengan cairan mirip di Infuse.

Segala hal yang berhubungan dengan biaya telah aku sediakan. Ini aku tabung semenjak aku mengetahui bahwa Bundamu diberitahu dokter positif hamil.

Siang Bundamu mulai di induksi, beberapa jam kemudian aku lihat Bundamu begitu kesakitan, namun rasa sakit itu hilang timbul. Makin lama frekwensi rasa sakit itu kian meningkat. Bundamu dibidani oleh tiga orang yang salah satunya terlihat lebih rileks dan dapat mengontrol serta menyemangati Bundamu.

Saat engkau diangkat dari rahim Bundamu, aku disamping Bundamu. Saat-saat yang tidak akan pernah aku lupakan. Mendengar rintihan sakit Bundamu, antara sakit dan tangis, suara-suara memberi semangat dari para bidan hingga suara tangisan bayi lelaki . “Segala puji bagimu Tuhan yang menguasai hidup dan mati manusia penguasa jagat alam semesta “ku ucapkan beberapa menit setelah engkau dilahirkan. Setelah dibersihkan oleh suster engkau aku adzani dan aku langsung sholat isya. Engkau dilahirkan pukul tujuh sebelum adzan isya terdengar.

Kelahiranmu disebuah Puskesmas terbaik di Jakarta Timur. Tepatnya di kawasan Jatinegara. Gedung berlantai tiga itu lebih mirip Rumah sakit jika di daerah. Ada rekanku menelephon terkejut aku melahirkanmu di sebuah Puskesmas. Maklum di daerahnya Puskesmas itu tidak terawat dan jarang dikunjungi masyarakat. Setelah temanku yang berasal dari Palembang itu tiba di Puskesmas, ia sampe tercengang-cengang melihat betapa besarnya Puskesmas di Jakarta ini. Aku hanya tersenyum saja melihat pengakuannya yang jujur tentang Puskesmas itu.

Keesok harinya cukup banyak yang berkunjung untuk mengucapkan selamat, sanak family hingga teman-temanku yang sama kuliah denganku yang kebetulan sedang di Jakarta menyempatkan diri melihat.

Hari itu tidak ada matahari padahal jam telah menunjukan pukul 10 pagi. Musim hujan yang jatuh dibulam Maret itu membuat kali Ciliwung Banjir. Saat aku duduk di luar Gedung Puskesmas Ayah melihat ada pasien yang keluar dengan kaki diperban, ternyata ia salahsatu warga yang tinggal di bantaran kali Ciliwung yang lutut kakinya sobek harus di jahit akibat terkena atap seng saat berenang dari rumahnya yang telah terendam air sungai yang telah tinggi.

Ayah membeli Koran, berita Gempa Tsunami di Aceh masih menjadi berita hangat yang mengisi berbagai media tanah air. Diperkirakan 220.000 jiwa terbunuh akibat bencana tersebut. Tanggal 24 Desember 2004 menjadi sepuluh Gempa mematikan dalam seratus tahun terakhir. Patahan yang retak membelah dasar laut dan menghempaskan sebuah Stunami melintasi samudra Hindia. Aceh dan Nias menjadi wilayah terparah di Indonesia.

Koran itu Ayah baca hanya sekenanya saja karna kehadiranmu mengalahkan banyak perhatianku yang tiada habisnya.

Saat engkau lahir Ayahmu bekerja sebagai tenaga penjual pada sebuah developer cukup terkenal di Jakarta, berita gempa Stunami membuat kondisi property tidak stabil. Bagi yang bermukimdi pesisir pantai banyak yang ingin menjual rumahnya karna takut akan kejadian di Aceh.Apalagi ada berhembus berita gempa tersebuat akan ada susulannya. Hal ini membuat panic masyarakat.

Tidak disangka-sangka Ayah mendapat berita bahwa tadi malam, saat setelah engkau di lahirkan telah terjadi gempa yang cukup besar, namun gempa tersebut tidak menimbulkan gelombang Stunami karna pusatnya bukandi dasar lautan. Gempa tersebut menimpa Pulau Nias. Gempa yang sama dengan kelahiranmu itu banyak meratakan Rumah dan korban jiwa.

Stop Olok-olok

September 8, 2008

Saya baru tersadar betapa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. Ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia bisa!”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memperagakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses. Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang sangat “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi oleh sahabatnya dengan ungkapan, ”Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?”.

Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada ‘self-fulfilling prophecy’, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”, “Otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan mulai memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun Negara sendiri.

Olok-olok sebagai Cerminan ‘Esteem’ Rendah

Tertawa dan bercanda bersama adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunjukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata. Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi ke diri sendiri.

Olok olok yang kita sering dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan ‘esteem’ atau penghargaan diri. Orang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.

Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan, karena ia tidak tertuju langsung secara ‘man to man’ pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk ‘pasang badan’ dan mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara ksatria dan elegan.

Rasa Syukur Menarik Kebaikan dan Kesuksesan

Dalam buku best seller-nya, ‘The Secret’, Rhonda Byrne, mengungkapkan hal-hal yang sangat “common sense”, yang sejak dulu dikumandangkan ayah saya, walaupun bentuknya sedikit berbeda. “Hitung berkatmu”, kata ayah saya,”Maka kamu akan takjub akan kekayaanmu. Kemudian bersyukurlah”. Menurut Rhonda, mustahil kita menarik kebaikan, kesejahteraan dan keuntungan, tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur yang kita pancarkanlah yang akan menarik enerji bagaikan magnet, sehingga kebaikan dan kemudahan akan mendekat dan memberikan “power” dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa “kurang” karena itu akan menantang diri kita, membangkitkan motivasi untuk selalu lebih baik dan sempurna. Namun, ratapan tanpa rasa “bersyukur” yang diwarnai rasa iri dan kekecewaan yang negatif akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri, keluarga, perusahaan dan bangsa.

Simak laporan CNN mengenai gempa bumi di Sichuan, 12 Mei yang lalu. “Jutaan orang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda. Namun, tak terdengar ratapan dan keluhan. Yang tampak adalah orang saling menolong satu sama lain. Dalam hitungan jam, orang-orang berlomba untuk memberi bantuan. Sepanjang ratusan meter, orang-orang mengantri untuk mendonorkan darahnya, dan dalam waktu 24 jam, mereka kehabisan tempat untuk menampung darah dari pendonor.” Rupanya, di negara yang sering kita duga “miskin emosi” ini, tidak banyak orang mengidap gejala: ”bystander’s apathy”, penonton yang apatis. Tentu, tak ada salahnya kita mem”benchmark” semangat solidaritas dan “tidak ada matinya” negeri Cina ini.

Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan memanjat dinding 12 meter, menyelesaikan laporan tepat waktu, menutup penjualan 10 juta,berhemat 200 ribu ataupun sekedar keberhasilan untuk datang ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita. Selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan tidak lupa untuk bertindak!

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Date: 02-Jun-2008
(Ditayangkan di KOMPAS, 31 Mei 2008)

Kita memang beda

September 8, 2008

Kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: ”Kita beda”, maka menurut pendapat saya, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan “value adding”-nya, sebagai manusia yang utuh. Itulah sebabnya kita memang perlu berbangga dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; kesamaan dalam perbedaan, yang sampai-sampai oleh DJ Romy, cucu Soekarno juga dijadikan tema album terbarunya: “Unity in diversity”.

Namun demikian, meski kita sering mengakui bahwa perbedaan itu indah, begitu sering juga kita tidak melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan. Pikirkan betapa sering kita ‘buang muka’ bila menemukan orang yang berbeda pandangan dengan kita, bergosip di belakang orangnya, membahas mengapa dia beda, dan bahkan kemudian kita mulai melakukan manuver-manuver penyerangan seolah dia atau mereka itu musuh bebuyutan yang harus dibasmi. Di dalam rapat kita sering menemui jalan buntu sekedar karena berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah atau cara meraih sasaran yang sebetulnya adalah sasaran bersama. Dalam kondisi begini, ternyata perbedaan membuat kita tidak nyaman dan bahkan membangkitkan suasana permusuhan. Alih–alih menyamakan visi dan sasaran, berbicara pun sering tidak kita upayakan, bila sudah terjebak dalam konflik yang disebabkan adanya perbedaan.

SAMA TAPI BEDA

Sikap ‘jijik’ terhadap perbedaan adalah sikap yang mutlak salah, karena dengan demikian kita lupa bahwa kesamaan bisa membuat kita justru miskin dan tidak berkembang. Kesamaan latar belakang, pendidikan, kompetensi, dan komitmen yang sering membuat lingkungan kita ‘nyaman’, terkadang justru membuat kita jadi tidak bisa menggerakkan suatu tim. Mereka yang bisa menampilkan keberbedaaannya, kemenonjolannya, dan keunikannya-lah yang kemudian malah bisa mulai memberi nilai tambah kepada tim.

Pemahaman mengenai kesamaan dan perbedaan sesungguhnya adalah dasar untuk mengolah sebuah tim yang berkekuatan besar. Tanpa menyamakan persepsi, misalnya mengenai situasi yang sedang kita hadapi, perilaku yang muncul, serta kekuatan dan kelemahan yang ada, kita tidak bisa mempunyai dasar untuk tinggal landas. Padahal, bukankah suatu situasi yang sama sering dilihat dengan pendekatan yang beda? Individu yang satu melihat detilnya, sementara yang lain melihat keseluruhannya. Ada individu yang banyak melihat, ada individu yang lebih ‘mendengar’, sementara yang lain lebih dominan perasaannya dalam mendekati suatu gejala dan fenomena. Belum lagi, pandangan dua orang yang akan berbeda total bila yang satu melihat dengan kepentingan jangka pendek, sementara yang lain melihat dengan kepentingan jangka panjang.

Penyamaan persepsi ini sebetulnya terjadi pada setiap manusia dewasa yang berniat dan mampu melihat suatu gejala secara obyektif. Tanpa kemampuan ini, individu akan mencampuradukkan keyakinan, nilai dan visinya dengan perbedaan pandangan pihak lain, sehingga individu lain dianggapnya berseberangan. Di sinilah kemudian, kelompok bisa tidak sejalan satu dengan yang lain, divisi A berkonflik dengan divisi B, partai politik berseteru satu dengan yang lain, akibat ketidakmampuan melihat kepentingan bersama, visi dan tujuan bersama yang sebetulnya sama.

MULAI DENGAN MEMOTRET DIRI SENDIRI

Ilmu “emotional intelligence” mengajarkan pada kita untuk meningkatkan ’self awareness’ kita dulu, bila kita berharap untuk mampu menguasai situasi sosial atau mempengaruhi orang lain. Ini adalah bagian dari ‘eksplorasi mental’ yang perlu kita lakukan dengan sengaja. Tanpa melakukannya, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, karena tidak bisa memanfaatkan keberbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif. Banyak istilah seperti “test the water’, ‘feel the breeze’ yang kurang lebih artinya adalah menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.

Cara yang paling mudah untuk ’memotret diri’ ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain. Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada. Hal ini sangat manusiawi karena manusia memang dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga melakukan ‘judging, comparing, interpreting, anticipating, rehearsing’, yang artinya mengolah input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi tantangan..

BAYANGKAN KALAU KITA SAMA SEMUA

Kalau kita, di dunia ini sama semua, maka pastilah kita akan merasa seperti robot ciptaan manusia yang sudah diberi bobot emosi, seperti yang digambarkan lewat film-film science fiction yang marak sekarang. Berbedanya bakat, latar belakang, pendidikan, dan kompetensi lainnya adalah kekayaan keluarga, kelompok, bahkan Negara. Perbedaanlah yang memungkinkan kita bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain, hingga terciptanya sinergi. Hanya saja memang perlu diakui bahwa menonjolkan keberbedaan alias keunikan kita tidaklah mudah.

Kita tentunya tidak bisa berperilaku aneh-aneh untuk mengekspresikan keberbedaan kita. Kita pun tidak bisa berkoar-koar menonjolkannya. Kita tahu bahwa kita memang perlu mengekspresikan bahwa “saya adalah saya”, sementara “saya” ini mempunyai nilai, keyakinan, kompetensi dan sasaran sendiri. Satu-satunya jalan bersikap dewasa adalah dengan sedikit mengambil ‘jarak’ terhadap diri dan memperbolehkan diri kita sendiri atau siapa saja meninjau kembali, mengetes lagi, kompetensi, nilai, keyakinan kita. Bukankah keyakinan juga bisa salah dan nilai pun bisa usang? Untuk Negara dengan 12000 pulau dan ribuan suku bangsa yang ingin bersatu, dengan 33 partai politik peserta pemilu 2009 yang disahkan , keterbukaan inilah yang mutlak diperlukan: Bhinneka Tunggal Ika. ….Merdeka!!!

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Date: 19-Aug-2008
(Ditayangkan di KOMPAS, 16 Agustus 2008)