Menunggu pembagian Zakat malah Mangkat.

By welly
Berita yang terjadi hari ini sungguh memilukan, di Pasuruan jawa timur , seorang saudagar ingin menolong sesama dengan berzakat. Niat baik ini malah berakhir dengan matinya 23warga di berita TV One tadi sore, dan malamnya di beritakan 21 warga si Metro tv akibat berdesak-desakan. Ternyata antiran warga yang ingin menerima zakat yang katanya jumlahnya Rp.30.000 per orang mencapain ribuan orang ikut mengantri, bukan saja dari warga sekitar, hingga warga dari kampung tetangga pun ambil bagian .  Sesaat kita terpaku dengan banyak nya korban jiwa dan di metrotv memberitakan dengan potret kemiskinan. Bnenar. punurunan angka kemiskinan seperti di laporkan oleh pemerintah saat di DPR baru lalu harus dipertanyakan, dari mana ukurannya.
Saat korban diantarkan ketempat keluarganya, jelas keluarga tersebut histeris. Tapi disana terlihat kelaurga tersebut memiliki rumah yang permanent, berlantai keramik, mungkin sederhananya , uang Rp. 30.000,- itu tidak begitu berarti bagi keluarga yang meninggal. Lalu brita yang saya lihat di metro tv itu menampilkan wawancara dari seorang korban yang selamat. ” Setiap Zakat ada tumbalnya” keluar dari mulut korban yang selamat ini saat di wawancara metrotv. Wah , disaat ramadhan ini , yang harusnya kita berbuat kebaikan justru ada yang mempercayain itu tumbal. begitu juga kata office boy di kantor saya, karna ia memang berkampung di jawa. Ada benarnya juga, bisa jadi yang sebenarnya mampu tapi belaku miskin dan ikut berbondong-bondong kesana. Bukan untuk tidak simpatik, namun ada manusia punya kebiasaan mampu mengaku tidak mampu. Bukti dekatnya, pembagian Bantuan Langsuang Tunai(BLT), banyak yang mengeluhkan mereka yang mampu justru yang mendapat BLT, yang tidak mampu justru tidak menerima.
Ada sedikit cerita waktu di tinggal di Ulak karang Padang. saat aku bermain di teras rumah datang seorang minta sedekah membawa karung berisi beras memakai baju koko lusuh kedepan rumah. Jelas dari wajahnya kalo ia minta bantuan , baik uang atau pun beras ia terima. Ibuku melihat dari dalam rumah dan iba, maka di berikanlah uang Lima ratus rupiah, sementara aku ingat belajaku smp hanya tiga ratus rupiah. Betapa senangnya peminta sedekah itu aku lihat , karna memang aku yang di suruh ibu untuk memberikan uang lima ratus rupiah itu. Dari pintu depan yang terbuka ibu memandang ku memberikan uang limaratus itu. Setelah itu aku bermain lagi di teras rumah. Tidak berapa lama datang seorang peminta sedekah yang perlengkapannya sama dengan peminta sedekah tadi, tiak disangka ibu memberikan lagi uang limarut rupiah lagi dengan peminta sedekah ini. Tapi aku disuruh masuk setelah menerima uang itu tadi. Aku bingung , kenapa di suruh masuk. yang aku ingat , ibu bilang “berhenti main di luar! akan datang lagi peminta sedekah nanti”. Aku sedikit tidak percaya atas ucapan ibu . Karna , jiikdilihat, peminta sedekah itu bermuka letih dan lesu.
Semapat aku membuktikan ucapan ibu itu , ternyata benar saja, ada lagi peminta sedekah dateng, ia mengucaokan salam dengan takzim beberapa kali , lalu pergi. Dalam pikiran ku saat itu , apabenar para peminta sedekah itu saling kenal dan berbagi informasi. Dalam pikiranku, bisa ia bisa tidak. Tapi , setelah mengetahui beberapa pesantren di padang panjang memang membuat kelompok-kelompok untuk meminta batuan , tapi aku dengar , itu bagian dari pembentukan mental. Weleh….pemebentukan mental kok seperti itu….

Tinggalkan Balasan