“Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menjalin tali silaturahmi” (HR.Bukhari)” :)

Saya sempat sedikit memperdebatkan hadist di atas kepada seorang teman. Saya mengatakan, bahwa umur adalah mutlak di tangan Tuhan, tidak mampu manusia membuat waktu yang di berikan beru[a umur oleh Tuhan memperpanjang atau memperpendeknya.  Teman tersebut mengatakan, ‘ada orang yang sudah meninggal secara lahiriah tapi secara manfaat orang tersebut selalu di kenang, seolah-olah dia hidup terus dikenang dan manfaat yang di tinggalkan’. Dari pembicaraan itu , saya bisa simpulkan bahwa umur panjang itu bukan hanya umur Raga saja, tapi juga umur Jiwa .  dan teman itu menambahkan,’Rezki jodoh ajal nasib celaka beruntungnya manusia sudah tertulis sejak masih berupa segumpal daging dalam kandungan’.

Ini hal baru lagi  , dalam pikirku, ‘sudah tertulis sejak berupa segumpal daging’. Jika sudah tertulis apa bisa di email hehehe, dengan ketawa teman itu menjawab, ‘semua sudah tertulis dalam Lauhil Mahhfudz, tersimpan rapat hingga Hacker yang paling jagopun ngak bisa meretas informasinya  ’.

Jadi makin jelas cerita tentang hadis di atas mengenai memperpanjang umur dalam bersilaturahmi.  Moment silaturahmi itu salah satunya di saat bulan Ramadhan yaitu dengan berbuka bersama.  Karna jika silaturahmi memperbanyak rezki , rasanya sudah menjadi logika  itu bagian dai membuat jaringan atau link , walau dampak yang di rasakan tidak cepat terasa manfaatnya.