Stop Olok-olok

September 8, 2008 oleh welly

Saya baru tersadar betapa bangsa kita gemar berolok-olok dan mencerca bangsa sendiri. Ketika dalam kelas training saya menanyakan apa pendapat peserta tentang acara kolosal kebangkitan nasional yang saya juluki bertema “Indonesia bisa!”, sebagian orang mengomentari penyanyi yang gagal, yang lain secara jenaka memperagakan latihan tenaga dalam yang kurang sukses. Sementara anggota keluarga saya, secara lengkap, tua-muda, menikmati acara tersebut, terharu-biru begitu dikumandangkannya lagu Indonesia Raya oleh si Putra Papua, Edo Kondologit, dan merasa termotivasi untuk bangkit dari kesulitan, namun di sisi lain ternyata banyak orang yang melihat tontonan ini dari sudut pandang yang sangat “ringan dan lucu”. Kenyataan ini dilanjutkan, ketika dalam salah satu blog seseorang yang membahas mengenai olok-olok juga, ditanggapi oleh sahabatnya dengan ungkapan, ”Bukannya Bangsa Indonesia memang biasa berkomunikasi dengan cara ‘olok-olok’ seperti ini?”.

Ironisnya, olok-olok ini sesungguhnya bisa jadi membuat kita terjebak pada ‘self-fulfilling prophecy’, yaitu terdorongnya situasi atau perilaku baru melalui perkataan, pikiran atau keyakinan kita sendiri. Ungkapan-ungkapan seperti “kita ini bangsa yang bodoh”, “Otak orang Indonesia paling segar, karena tidak pernah dipakai”, “pemberantasan korupsi tidak akan tuntas”, karena tidak diikuti oleh tindakan, action plan pribadi, kelompok maupun perusahaan secara jelas, malah bisa membuat kita sendiri frustasi dan mulai memaki diri sendiri, bahkan melahirkan ‘lingkaran setan’ yang dibuat oleh keyakinan itu sendiri. Dikarenakan kemalasan dan tidak teganya kita memaki diri sendiri, maka olok-oloklah yang kita lontarkan pada pihak lain, dalam hal ini perusahaan sendiri, lembaga pemerintah sendiri, ataupun Negara sendiri.

Olok-olok sebagai Cerminan ‘Esteem’ Rendah

Tertawa dan bercanda bersama adalah cara manusia untuk mempererat hubungan. Bayangkan betapa runyam hidup seseorang yang tidak pernah tersenyum dan tertawa. Tersenyum dimulai dari adanya koneksi yang menunjukkan daya tarik interpersonal, sementara tertawa dimulai dari kemampuan individu untuk melihat sisi lucu dari sesuatu yang kasat mata. Hanya pada saat individu berkembanglah, ia bisa mempunyai perspektif terhadap hal yang tidak kasat mata, lebih abstrak, dalam, dan melihatnya dari sudut pandang lucu, gembira dan tidak sendu ataupun serius. Orang yang banyak tertawa memang cenderung lebih “happy” dan optimistis. Namun, tertawa, baik mengenai diri sendiri atau terhadap suatu situasi tentunya tidak berlaku bila tawa itu diwarnai dengan sinisme yang berlebihan ataupun pelecehan ke orang lain, apalagi ke diri sendiri.

Olok olok yang kita sering dengar, terutama akhir-akhir ini, rasanya sulit digolongkan pada olok-olok yang sehat, karena ia terasa getir, sinis bahkan tidak menunjukkan ‘esteem’ atau penghargaan diri. Orang ber-esteem rendah kita kenal sebagai orang yang mempunyai kebiasaan untuk menilai negatif diri sendiri, tidak menyukai tantangan, malas bertindak, dan banyak tampil sebagai pengkritik tajam bahkan melecehkan orang lain. Tentunya kegiatan ini bukan bercanda lagi, apalagi disebut “sense of humor”.

Bisa jadi kita berpikir bahwa olok-olok atau sindiran adalah bentuk umpan balik bagi pihak lain untuk mawas diri dan memperbaiki diri. Namun, olok-olok tentu saja tidak bisa kita sebut masukan, karena ia tidak tertuju langsung secara ‘man to man’ pada orang yang kita maksud. Selain olok-olok tidak pernah menjadikan situasi lebih baik, kita yang mengolok-olok juga jadi manusia kerdil karena seolah “lempar batu sembunyi tangan”, akibat ketidakmampuan kita untuk ‘pasang badan’ dan mempertanggungjawabkan pendapat dan masukan kita secara ksatria dan elegan.

Rasa Syukur Menarik Kebaikan dan Kesuksesan

Dalam buku best seller-nya, ‘The Secret’, Rhonda Byrne, mengungkapkan hal-hal yang sangat “common sense”, yang sejak dulu dikumandangkan ayah saya, walaupun bentuknya sedikit berbeda. “Hitung berkatmu”, kata ayah saya,”Maka kamu akan takjub akan kekayaanmu. Kemudian bersyukurlah”. Menurut Rhonda, mustahil kita menarik kebaikan, kesejahteraan dan keuntungan, tanpa mensyukuri apa yang kita miliki. Rasa syukur yang kita pancarkanlah yang akan menarik enerji bagaikan magnet, sehingga kebaikan dan kemudahan akan mendekat dan memberikan “power” dalam kehidupan kita. Kita boleh merasa “kurang” karena itu akan menantang diri kita, membangkitkan motivasi untuk selalu lebih baik dan sempurna. Namun, ratapan tanpa rasa “bersyukur” yang diwarnai rasa iri dan kekecewaan yang negatif akan membendung kita dari kreativitas dan patriotisme untuk membangun diri, keluarga, perusahaan dan bangsa.

Simak laporan CNN mengenai gempa bumi di Sichuan, 12 Mei yang lalu. “Jutaan orang kehilangan keluarga, rumah dan harta benda. Namun, tak terdengar ratapan dan keluhan. Yang tampak adalah orang saling menolong satu sama lain. Dalam hitungan jam, orang-orang berlomba untuk memberi bantuan. Sepanjang ratusan meter, orang-orang mengantri untuk mendonorkan darahnya, dan dalam waktu 24 jam, mereka kehabisan tempat untuk menampung darah dari pendonor.” Rupanya, di negara yang sering kita duga “miskin emosi” ini, tidak banyak orang mengidap gejala: ”bystander’s apathy”, penonton yang apatis. Tentu, tak ada salahnya kita mem”benchmark” semangat solidaritas dan “tidak ada matinya” negeri Cina ini.

Marilah mulai bangkit dengan membuat daftar sukses, apakah itu keberhasilan memanjat dinding 12 meter, menyelesaikan laporan tepat waktu, menutup penjualan 10 juta,berhemat 200 ribu ataupun sekedar keberhasilan untuk datang ke kantor tepat waktu. Dengan bersyukur, kita memupuk kualitas positif dan kompetensi sebagai modal kita. Selanjutnya, mari kita hidup sesuai dengan tuntutan yang realistik dan tidak lupa untuk bertindak!

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Date: 02-Jun-2008
(Ditayangkan di KOMPAS, 31 Mei 2008)

Kita memang beda

September 8, 2008 oleh welly

Kalau ada dua orang berhadapan, saling menatap, dan kemudian salah satu mengambil kesimpulan: ”Kita beda”, maka menurut pendapat saya, justru mereka sebetulnya sudah menemukan kesamaan. Di sinilah persepsi mengenai perbedaan dan persamaan akan terasa keindahannya, karena masing-masing individu yang berhadapan itu sudah “menemukan dirinya”, keunikannya, dan bahkan “value adding”-nya, sebagai manusia yang utuh. Itulah sebabnya kita memang perlu berbangga dengan semboyan negara kita, Bhinneka Tunggal Ika; kesamaan dalam perbedaan, yang sampai-sampai oleh DJ Romy, cucu Soekarno juga dijadikan tema album terbarunya: “Unity in diversity”.

Namun demikian, meski kita sering mengakui bahwa perbedaan itu indah, begitu sering juga kita tidak melihat perbedaan sebagai suatu kekayaan. Pikirkan betapa sering kita ‘buang muka’ bila menemukan orang yang berbeda pandangan dengan kita, bergosip di belakang orangnya, membahas mengapa dia beda, dan bahkan kemudian kita mulai melakukan manuver-manuver penyerangan seolah dia atau mereka itu musuh bebuyutan yang harus dibasmi. Di dalam rapat kita sering menemui jalan buntu sekedar karena berbeda pendapat mengenai cara pemecahan masalah atau cara meraih sasaran yang sebetulnya adalah sasaran bersama. Dalam kondisi begini, ternyata perbedaan membuat kita tidak nyaman dan bahkan membangkitkan suasana permusuhan. Alih–alih menyamakan visi dan sasaran, berbicara pun sering tidak kita upayakan, bila sudah terjebak dalam konflik yang disebabkan adanya perbedaan.

SAMA TAPI BEDA

Sikap ‘jijik’ terhadap perbedaan adalah sikap yang mutlak salah, karena dengan demikian kita lupa bahwa kesamaan bisa membuat kita justru miskin dan tidak berkembang. Kesamaan latar belakang, pendidikan, kompetensi, dan komitmen yang sering membuat lingkungan kita ‘nyaman’, terkadang justru membuat kita jadi tidak bisa menggerakkan suatu tim. Mereka yang bisa menampilkan keberbedaaannya, kemenonjolannya, dan keunikannya-lah yang kemudian malah bisa mulai memberi nilai tambah kepada tim.

Pemahaman mengenai kesamaan dan perbedaan sesungguhnya adalah dasar untuk mengolah sebuah tim yang berkekuatan besar. Tanpa menyamakan persepsi, misalnya mengenai situasi yang sedang kita hadapi, perilaku yang muncul, serta kekuatan dan kelemahan yang ada, kita tidak bisa mempunyai dasar untuk tinggal landas. Padahal, bukankah suatu situasi yang sama sering dilihat dengan pendekatan yang beda? Individu yang satu melihat detilnya, sementara yang lain melihat keseluruhannya. Ada individu yang banyak melihat, ada individu yang lebih ‘mendengar’, sementara yang lain lebih dominan perasaannya dalam mendekati suatu gejala dan fenomena. Belum lagi, pandangan dua orang yang akan berbeda total bila yang satu melihat dengan kepentingan jangka pendek, sementara yang lain melihat dengan kepentingan jangka panjang.

Penyamaan persepsi ini sebetulnya terjadi pada setiap manusia dewasa yang berniat dan mampu melihat suatu gejala secara obyektif. Tanpa kemampuan ini, individu akan mencampuradukkan keyakinan, nilai dan visinya dengan perbedaan pandangan pihak lain, sehingga individu lain dianggapnya berseberangan. Di sinilah kemudian, kelompok bisa tidak sejalan satu dengan yang lain, divisi A berkonflik dengan divisi B, partai politik berseteru satu dengan yang lain, akibat ketidakmampuan melihat kepentingan bersama, visi dan tujuan bersama yang sebetulnya sama.

MULAI DENGAN MEMOTRET DIRI SENDIRI

Ilmu “emotional intelligence” mengajarkan pada kita untuk meningkatkan ’self awareness’ kita dulu, bila kita berharap untuk mampu menguasai situasi sosial atau mempengaruhi orang lain. Ini adalah bagian dari ‘eksplorasi mental’ yang perlu kita lakukan dengan sengaja. Tanpa melakukannya, kita akan tumbuh menjadi orang yang kian picik, karena tidak bisa memanfaatkan keberbedaan yang berangkat dari analisa diri dan situasi yang obyektif. Banyak istilah seperti “test the water’, ‘feel the breeze’ yang kurang lebih artinya adalah menajamkan sensor untuk memahami diri dan situasi sekitar kita.

Cara yang paling mudah untuk ’memotret diri’ ini adalah dengan membandingkan diri kita dengan orang lain, memahami kesamaan, terutama persepsi dan pemahaman, kemudian mengidentifikasi keunikan serta keberbedaan orang lain. Hanya dengan ketajaman mental seperti ini kita bisa mengembangkan respek terhadap orang lain. Dalam proses eksplorasi mental ini, kita pasti secara otomatis ingin merasa benar, ingin membela diri dan bahkan ingin meneruskan cara-cara kita yang lama dan yang sudah ada. Hal ini sangat manusiawi karena manusia memang dibekali proses mental untuk menjaga keseimbangan jiwanya. Namun demikian, orang yang ingin memperkuat mentalnya, perlu juga melakukan ‘judging, comparing, interpreting, anticipating, rehearsing’, yang artinya mengolah input yang masuk dan mencocokkannya dengan realita, mencari kebenaran dan mengambil resiko bahwa ada kemungkinan ia harus berubah. Hanya dengan cara inilah kita sebagai manusia, berkembang menjadi manusia yang berpikiran fleksibel dan berpikiran terbuka dalam menghadapi tantangan..

BAYANGKAN KALAU KITA SAMA SEMUA

Kalau kita, di dunia ini sama semua, maka pastilah kita akan merasa seperti robot ciptaan manusia yang sudah diberi bobot emosi, seperti yang digambarkan lewat film-film science fiction yang marak sekarang. Berbedanya bakat, latar belakang, pendidikan, dan kompetensi lainnya adalah kekayaan keluarga, kelompok, bahkan Negara. Perbedaanlah yang memungkinkan kita bisa saling melengkapi kekurangan satu sama lain, hingga terciptanya sinergi. Hanya saja memang perlu diakui bahwa menonjolkan keberbedaan alias keunikan kita tidaklah mudah.

Kita tentunya tidak bisa berperilaku aneh-aneh untuk mengekspresikan keberbedaan kita. Kita pun tidak bisa berkoar-koar menonjolkannya. Kita tahu bahwa kita memang perlu mengekspresikan bahwa “saya adalah saya”, sementara “saya” ini mempunyai nilai, keyakinan, kompetensi dan sasaran sendiri. Satu-satunya jalan bersikap dewasa adalah dengan sedikit mengambil ‘jarak’ terhadap diri dan memperbolehkan diri kita sendiri atau siapa saja meninjau kembali, mengetes lagi, kompetensi, nilai, keyakinan kita. Bukankah keyakinan juga bisa salah dan nilai pun bisa usang? Untuk Negara dengan 12000 pulau dan ribuan suku bangsa yang ingin bersatu, dengan 33 partai politik peserta pemilu 2009 yang disahkan , keterbukaan inilah yang mutlak diperlukan: Bhinneka Tunggal Ika. ….Merdeka!!!

By: Eileen Rachman & Sylvina Savitri
Date: 19-Aug-2008
(Ditayangkan di KOMPAS, 16 Agustus 2008)

Investasi Sesuai Usia Anda

September 8, 2008 oleh welly

COBA Anda renungkan sejenak. Sarana investasi apa yang sudah Anda miliki saat ini? Jika tidak ada, berarti Anda harus mulai memikirkannya segera. Memang sebagian dari kita pasti berpikir akan menyerahkan urusan investasi kepada kaum lelaki yang akan atau sudah menjadi pasangan hidup kita. Sementara uang jerih payah kita lebih baik digunakan untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Iya, enggak?

Sudah saatnya kita memperkaya diri dengan berinvestasi. Banyak manfaatnya kok. Ingat, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Buat Anda yang masih berusia 20-an atau 30-an, semua ada sarananya.

USIA 20-AN
Karakter: baru memulai karier setelah lulus kuliah dan mulai memperoleh penghasilan sendiri. Prioritas utama jangka pendek adalah lepas dari ketergantungan pada orangtua atau keluarga yang telah membiayai kuliah. ‘Tanggungan’ masih relatif sedikit, bahkan belum ada. Si 20-an juga sedang menghadapi godaan dalam pengeluaran, seperti tawaran pembukaan kartu kredit, membeli pakaian, hang out di kafe, dan sebagainya.

Fokus: Lebih mengarah pada urusan mengelola penghasilan. Fokus lain adalah mencari cara menambah penghasilan yang jumlahnya belum terlalu banyak. Apalagi, penghasilan yang diterima masih bersumber pada diri sendiri (belum ada income dari pasangan), sementara pengeluaran seperti tak ada habisnya.

Pertimbangan Jangka Panjang: Untuk mempertahankan gaya hidup, si 20-an perlu memikirkan kebutuhan jangka panjang. Itu sebabnya, Anda perlu mengembangkan aset yang dipunyai. Caranya, pilih produk investasi yang bisa memberikan return (pengembalian dana) tinggi. Memang, produk ini berisiko tinggi. Toh, Anda masih muda dan jangka waktu yang dimiliki panjang. Jika memutuskan mengambil kredit rumah (KPR), pilih jangka waktu yang paling panjang. Dengan demikian, cicilannya masih terjangkau.

Pilihan investasi yang sesuai:
1. Tabungan dan deposito 20% untuk simpanan di kala darurat.
2. Reksa dana pendapatan tetap 30% untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun).
3. Reksa dana saham 50% untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang.

Boks Simulasi
Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 2.500.000. Setiap bulan Anda menabung 20% dari penghasilan. Maka dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 2.500.000 x 20% x 12 bulan = Rp 6.000.000
Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi:
Tabungan (20%) Rp 1.200.000
Reksa dana saham (50%) Rp 3.000.000
Reksa dana pendapatan tetap (30%) Rp 1.800.000
USIA 30-AN
Karakter: Karier berada di posisi middle manager sampai dengan posisi senior. Perusahaan tempat bekerja mungkin sudah menyediakan fasilitas kesehatan. Anda juga pasti sudah menerima 1-2 jenis tunjangan sesuai jabatan. Kendaraan mungkin sudah dimiliki. Di usia ini, beberapa dari Anda sudah ada yang memiliki anak balita, bahkan ada yang sudah belasan tahun. Beberapa tahun mendatang, mereka akan masuk SD, SMP, dan seterusnya. Pengeluaran di kurun usia ini pun meningkat drastis dibandingkan kurun usia sebelumnya karena jumlah yang ditanggung dan jenis pengeluaran bertambah.

Fokus: Sebagai seorang istri dan ibu, fokus si 30-an adalah mengelola keuangan bukan hanya untuk keperluan pribadi, melainkan juga keperluan keluarga. Masa depan pendidikan anak dan kesehatan Anda pribadi, jadi beberapa hal yang akan Anda pikirkan.

Pertimbangan Jangka Panjang: Karena tujuan finansial si 30-an lebih bervariasi, seperti menyiapkan dana pendidikan anak dan mencicil rumah pribadi, maka produk investasi yang dipilih pun harus bervariasi.

Pilihan investasi yang sesuai:
1. Tabungan dan deposito 25 persen untuk simpanan di kala darurat.
2. Reksa dana pendapatan tetap 30 persen untuk memenuhi kebutuhan jangka menengah (3 tahun).
3. Reksa dana saham 50 persen untuk memenuhi tujuan finansial jangka panjang.

Boks Simulasi
Misalkan penghasilan Anda per bulan Rp 5.000.000. Setiap bulan Anda menabung 20 persen dari penghasilan. Maka, dalam setahun tabungan Anda mencapai sekitar Rp 5.000.000 x 20 % x 12 bulan = Rp 12.000.000
Nah, aset setahun ini bisa Anda bagi menjadi:
Tabungan (25 persen) Rp 3.000.000
Reksa dana saham (35 persen) Rp 4.200.000
Reksa dana pendapatan tetap (40 persen) Rp 4.800.000

Nah, siap menginvestasikan penghasilan? Jangan lupa top up tabungan dan investasi Anda setiap tahun atau setiap ada pemasukan tambahan! Selamat berinvestasi.
Erma Dwi Kusumastuti

Diposting dr :

http://www.kompas.com/read/xml/2008/09/01/11005489/investasi.sesuai.usia.anda.

Pesona Gua Seplawan

September 7, 2008 oleh welly

Objek wisata alam Gua Seplawan terletak di Desa Donorejo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo. Dari pusat kota Purworejo, perjalanan ke gua ini dapat ditempuh sejauh 20 km ke arah timur yang membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua jam. Gua ini terletak pada ketinggian 700 m di atas permukaan laut sehingga menjamin adanya kondisi udara yang sangat sejuk.

Gua ini banyak mengundang minat banyak wisatawan karena memiliki daya pikat utama berupa lukisan alam yang sangat artistik pada dinding guanya. Lukisan artistik itu berupa bentuk ornamen yang menyerupai kerangka ikan. Ornamen itu yang menghiasi secara indah pada dinding gua. Gua sepanjang sekitar 700 meter ini juga kaya akan sajian keindahan lain yang alami berupa stalagmit, stalaktit, flow stone, helekit, soda straw dan gouwer dam. Namun tetap perhatian utama pada gua ini adalah keindahan lukisan alam yang ada di dalam gua tersebut.Di dalam Gua ini banyak terdapat cabang-cabang (lorong).

Namun, pengunjung tidak perlu khawatir akan tersesat dalam banyak lorong ini, karena gua ini sudah diterangi dengan penerangan yang memadai. Panjang Gua Seplawan ini kurang lebih sejauh 700 m dengan cabang-cabang gua-nya yang mempunyai panjang sekitar 150 – 300 m dan berdiameter 15 m. Gua alam ini mulai menjadi sangat terkenal pada saat ditemukannya arca emas Dewa Syiwa dan Dewi Pawestri seberat 1,5 kg pada tanggal 28 Agustus 1979 yang kini sudah disimpan di Museum Nasional Jakarta.

Keadaan sekitar gua ini sangat menunjang keindahan tempat tersebut dengan pemandangan alam yang begitu indah dan tumbuhnya berbagai flora antara lain lumut (di mulut gua) serta berbagai tanaman paku-pakuan. Juga adanya hutan pinus yang semakin menciptakan suasana yang asri. Para pengunjung juga disuguhi dengan taman bunga yang ada di sekitar gua.Salah satu hal yang menarik lain yang ada pada objek wisata ini adalah adanya gardu pandang dengan latar belakang Gunung Kelir. Melalui gardu ini pengunjung dapat menikmati indahnya panorama alam dengan latar belakang Gunung Kelir. Bahkan, pengunjung dapat melihat jelas Kota Yogyakarta bila cuaca cerah.Jalan menuju lokasi objek wisata ini sudah cukup baik. Area parkir bagi kendaraan bermotor roda dua, empat dan bus juga memadai. Gua ini dapat dikatakan telah dilengkapi fasilitas yang lengkap. Seperti adanya listrik sebagai penerang dalam gua, MCK dan taman. Juga adanya gardu pandang dan arena perkemahan (camping ground).Pada hari libur biasa dan libur panjang pengunjung dari Kota Yogyakarta, Cilacap, Purwokerto, Bandung, Semarang dan Jakarta sering mengunjungi objek wisata alam ini dengan menggunakan mobil pribadi maupun bus pariwisata.

diposting dr:

http://www.mapala-upn-yk.org/rubrik-susur-gua-ulasan-pesona-gua-seplawan.html

Kode Etik Pecinta Alam Se-Indonesia

September 7, 2008 oleh welly

“ PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “

“PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”

” PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “

Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :

1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.

2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.

3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.

4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.

5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam

6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.

7. Selesai.

Disyahkan bersama dalam GLADIAN IV – 1974 Di Ujungpandang Pukul 01.00 WITA